Puasa Menurut Alquran

Puasa Menurut AlquranAlquran menggunakan kata ‘Shiyam’ sebanyak delapan kali. Kesemuanya berarti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali al-Qur;an menggunakan kata shaum, tetapi maknanya menahan diri tak berbicara, “Sesungguhnya Aku bernazar puasa [shauman], maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun,” [QS:Maryam[19]:26]. Demikian ucapan Maryam as yang diajarkan Jibril ketika ada yang mempertanyakan kelahiran anaknya [Isa as].

Kata itu juga terdapat masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik untuk kamu”, dan sekali menunjuk kepada pelaku-pelaku puasa pria dan wanita, yaitu ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata yang beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar yang sama ‘sha-wa-ma’.Dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti” atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti di jalan dinamai faras shaim. Manusia yang berupaya menahan diri dari satu aktifitas -apapun aktifitas itu- dinamai ‘shaim’ [berpuasa].

Pengertian kebahasan ini, dipersempit maknanya oleh hukum syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.”

Merujuk ke hakikat dan tujuan puasa, kaum sufi menambahkan kegiatan yang harus dibatasi selama puasa. Ini mencakup pembatasan seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari segala dosa.

Betapapun, ‘shiyam’ atau ‘shaum’ -bagi manusia- pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu puasa dipersamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa [keduanya berarti menahan diri] maupun esensinya.

Hadis Qudsi yang menyatakan “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar [39] ayat 10 yang artinya “Sesunggunya hanya orang-orang yang bersabar lah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”.

Ada kebiasaan kaum Muslim menjelang datangnya Ramadan yaitu dengan mengucap marhaban ya Ramadan. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban” diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu [yang berarti selamat datang]“. Ia sana dengan ahlan wa sahlan yang diartikan “selamat datang”.

Meski keduanya berarti “selamat datang”, tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, melainkan “marhaban ya Ramadan”.

Marhaban terambil dari kata ‘rahb’ yang berarti “luas” atau “lapang”, sehingga marhaban menggambarkan tamu disambut dan diterima dengan lapang dada, penuh kegembiraan, serta dipersiapkan baginya ruang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama, terbentuk kata rahbat, yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan”.

Marhaban ya Ramadan berarti “Selamat datang Ramadan”, maknanya kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya “menggangu ketenangan” dan kenyamanan kita. Marhaban ya Ramadhan kita ucapkan karena kita mengharapkan jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt.

Ada gunung tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada lereng curam, belukar lebar, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tak dilanjutkan.

Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan terbit cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga.

Bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu kekasihnya, Allah swt. Demikian kurang lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

Tentu kita perlu mempersiapkan bekal menelusuri jalan itu. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan dalam jiwa dan tekad membaja untuk memerangi nafsu, agar mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarus, siangnya dengan ibadah melalui pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.

Semoga kita berhasil, untuk itu mari kita buka lembaran al-Qur’an mempelajari bagaimana tuntunannya.




Sebarkan Artikel Ini

Leave a Reply

© 2014 BeritaKaget.com. All rights reserved. Site Admin · Entries RSS · Comments RSS
IBN Network. All right reserved. Users